Selasa, 12 Januari 2010

Kenalkan, Saya Alumni IPDN

Orang Surabaya, atau Jawa Timur pada umumnya, kalau ketemu pasti saling pisuhan. Mengumpat satu sama lain dengan gaya khas suruboyoan yang sengit. Jancok! neng di ae, kon?
Jika ungkapan seperti itu disemburkan di depan telinga orang Jogya, Solo, atau orang Jawa Tengah pada umumnya, pasti akan terjadi sesuatu yang tidak direncanakan, semisal baku hantam atau cengkeraman pada leher baju si pembicara. Atau minimal yang bicara itu akan ditempeli cap tidak beradab.

Gaya bicara polos apa adanya itu, meski kultur, merisaukan banyak orang di Surabaya, terutama kalangan intelektual, wabilkhusus kaum moralis. Mereka kemudian menyelenggarakan seminar dengan maksud untuk mengembangkan wacana perlawanan terhadap pola ungkap “ngoko” Jawatimuran. Hasil seminar malah mengagetkan mereka: merestui budaya bertutur lugas seperti itu. Wong itu bukan cetusan kejahatan atau kegenitan hati, melainkan cermin keakraban dan kerendahan hati. Pisuhan itu sudah jadi semacam ndagel dalam ludrukan, suatu rukun yang harus ada dalam pergaulan populis sesama rakyat. Kalau nggak ada itu, pasti terasa hambar. Jadi, nggak usah jadi beban pikiran.

Di Bima ada juga etnis yang punya perangai lugas dan ceplas-ceplos seperti itu. Kalau ketemu orang sesama kampung, juga dengan siapa pun, say hallo-nya menggetarkan: “Mea mancikue, malao ta be kue?” Atau sejenis itu. Bagi yang asing pasti merah telinga, karena membawa-bawa barang paling terhormat dari kaum yang terhormat, perempuan. Tapi bagi yang mafhum pasti menyambutnya dengan hangat.

Bagaimana kalau budaya-etika seperti itu diratifikasi oleh orang perorang yang secara komunal bukan pendukung budaya itu. Macam Tokoh Kita misalnya. Ia kan bukan arek Suroboyo atau anak Ngali yang longgar tata karma berbahasanya itu. Tapi anak dari suatu kebudayaan keraton yang adiluhung. Memang dalam masyarakat kita tidak ada kelas feodalistik macam di Jawa, tapi yang namanya panutan harus menata diri, gerak-gerik dan tutur kata. Maka kalau bicara harus rapi seperti SBY atau Murdiono. Jangan kacau seperti kicau kecial. Sebab bisa menjadi masalah.

Dikasih tahu seperti itu, tokoh kita manggut-manggut saja seperti semuanya sudah terpendam dalam-dalam di benaknya. Tapi besoknya tiba giliran pidato, masih pisuhan juga. Malah ditambah ngancam-ngancam audiens pake mau dipukul dan dipenjarakan segala. Seloroh memang, tapi tetap saja ada yang masygul.

Para ulama, tetua, dan kaum moralis lalu mengadakan rapat untuk mencari sebuah resolusi. Hasilnya, Tokoh Kita harus diberi peringatan sebelum ia kebablasan. Karena tidak memiliki kultur dipanggil, Tokoh Kita ditemui. Ia dinasehati sebagai seorang anak oleh para tetua itu. Itu manifestasi kecintaan mereka pada Tokoh Kita. Tokoh Kita diminta untuk begini dan begitu, to be ini to be itu bertubi-tubi. Selain mengangguk dengan anggukan yang dalam berkali-kali tanda mafhum, Tokoh Kita berterima kasih yang tulus atas saling menasehati ini. Ini kewajiban moral dan kewajaran demokrasi. Tokoh Kita merasa senang, dan para tetua itu pun lebih bersuka cita karena merasa masih memiliki tuah. Untuk merayakan mereka sepakat ber-istighasah ala NU.


Giliran acara pidato, tokoh kita santun sekali bicaranya kayak Sri Sultan Hamengkubuwono atau pengasuh acara Bahasa Indonesia di televisi. Tapi batuk seringkali meledak. Maka, diadopsi sesekali gaya Amien Rais yang sengit dan menohok-nohok. Tapi, lama-lama gaya soroboyoan juga kembali muncul. Para pendengar mulai salin pandang, curiga. Kini semakin menjadi-jadi. Apalagi gaya ngali ikut terlibat. Ditambah lagi tangan dikepal, kaki juga dihentakkan dan diterjang.

Para hadirin kembali saling memandang, tapi kali ini penuh makna dan mengandung isyarat. Sejenak kemudian mereka serentak teriak, “Stop! Hentikan! Turun!” Mereka membentuk suasana seperti mahasiswa mau menjebol pintu rektor yang kokoh. Yel-yel penuh semangat diteriakkan mengiringi langkah-langkah yang merangsek maju.
Tiba-tiba seseorang berbisik, “Ia alumni IPDN, lho. Hati-hati!”
Tiba-tiba seseorang teriak, “Bubar! Bubar! Jangan cari penyakit! Mundur!”[]

Kami Tulalit, Tapi Kamu Rumit


“Makalah-makalah yang tersaji pada seminar hari ini mengungkap hal yang sudah kita ketahui, hanya saja dengan cara yang jauh lebih kompleks” (Alphonse Raymond Dochez)

Sejumlah ilmuan menemui sang kepala daerah di kantornya. Selain bersilaturrahmi, mereka juga membawa sekian banyak pemikiran dan gagasan yang menurut mereka sangat bermanfaat bagi pembangunan kota. Mereka ingin menyumbang darma bakti bagi daerahnya.
Sang kepala daerah menyambut mereka dengan suka cita, karena para aset berharga pembangunan itu mau turun tangan memikirkan nasib dan berbuat untuk kampung halaman.
Ketika gagasan-gagasan mereka dipresentasikan, sang kepala daerah tampak manggut-manggut sambil sesekali mengepulkan asap dji sam soe-nya, dan para ilmuan itu pun senyum memperlihatkan kepuasan. Selanjutnya, disepakatilah sebuah proyek penelitian untuk menemukan lebih detail berbagai faktor dan variabel di seputar konsep-konsep yang berpengaruh dalam pembangunan daerah.

Dalam waktu tidak terlalu lama para ilmuan itu telah rampung dengan pekerjaan mereka. Mereka pun datang kembali menemui sang kepala daerah sambil menenteng naskah akademik yang tebal. Mereka dipersilakan memaparkannya di hadapan khalayak, baik dari kalangan pejabab, birokrat, maupun masyarakat kebanyakan. Semua hadirin manggut-manggut. Tidak ada sanggahan atau pembelaan. Semua paparan mengagumkan, dan diterima tanpa reserve. Para ilmuan pun senyum kepuasan.

Sebulan dua bulan mereka menunggu hasil kerja ilmiah mereka diterapkan oleh sang kepala daerah . Hasilnya nihil. Setahun mereka menunggu tidak ada tanda-tanda digunakan. Sampai akhirnya sang kepala daerah lengser dan diganti sang kepala daerah yang baru.
Para ilmuan tetap terjaga optimismenya, dan mereka menaruh harapan pada sang kepala daerah yang baru. Kembali mereka datang menghadap, menjelaskan urgensi peran mereka dalam pembangunan. Hasilnya, disepakati suatu pekerjaan penelitian untuk mencari bahan pengambilan kebijakan pembangunan. Kali ini pekerjaan selesai lebih cepat. Output-nya mengagumkan. Tak terhitung cemerlangnya konsep-konsep dari kajian itu. Juga canggih dan kompleks.

Setelah diadakan sosialisasi, para ilmuan kembali menunggu karya akademik mereka diterapkan. Kali ini menunggunya lebih lama, bertahun-tahun tak tahu juntrungannya. Sampai kemudian sang kepala daerah digantikan oleh orang lain.

Para ilmuan itu belum bosan-bosannya. Mereka menghadap sang kepala daerah yang baru ini. Kali ini mereka datang bukan hanya membawa usulan projek penelitian sebagaimana yang sudah-sudah, tetapi juga menegosiasikan posisi strategis mereka di kancah pembangunan masyarakat. Sudah harus disepakati posisi tawar mereka di depan penguasa. Tidak boleh lagi menjadi pihak yang terabaikan.

Karena trauma dengan pengalaman dengan kepala daerah-kepala daerah terdahulu, kali ini strategi komunikasi para ilmuan dimodifikasi. Kalau dulu-dulu santun dan bermartabat, maka kini lebih berapi-api dan bergelora.
“Mbok ya kami ini dihargai. Yang namanya ilmu itu mahal, Bapak. Kami mendapatkannya jauh-jauh dan mahal-mahal!” kata salah seorang dari ilmuan itu.
Sang kepala daerah manggut-manggut.
“Tu kan, lihat, bapak-bapak para pemimpin atau penguasa ini sama saja. Pura-pura mengerti padahal – sumpah! – tidak sama sekali,” timpal rekannya.
Sang kepala daerah masih manggut-manggut, kali ini dicampur dengan mesem-mesem.
“Jangan hanya manggut-manggut senyum-senyam begitu, Pak! Katakan sesuatu, kami butuh jawaban konkret dari Bapak!” kata seorang lagi.

Sang kepala daerah panas juga. Rokok kreteknya digasak di asbak sampai hancur bercerei berei tembakaunya, lalu ia bicara:
“Bapak-bapak yang mulia. Kami ini bodoh, tidak mengerti cara bapak-bapak berbicara. Bicara bapak-bapak tinggi sekali, sedang kami ini ilmunya rendah. Jadi, tolong pakai bahasa rendah agar kami paham. Kami bodoh, tulalit, tapi bapak-bapak kok rumit sih…” Para ilmuan sunggingkan senyum, ada aksen getir, dan saling memandang sesama. Seakan sudah mafhum masalahnya.[]